Jumat

YOU KNOW GATOTKACA.. "WISATA BUDAYA"

Prestasi Gatutkaca
Alumni Universitas mana tidak diketahui,Tapi manusia terbang ini dilegenda disebutkan orang yang perkasa dari golongan kanan.Ini menurut sumber Tips Wisata Murah yang juga seorang dalang
Menjadi raja para dewa, Dan bergelar Raja Prabu Putra.Hanya sebentar jadi Raja para Dewa karena menyerahkan kembali kekuasaan Kahyangan kepada Bathara Guru . Gatutkaca sebagai ksatria akan kembali turun ke bumi tukmeredam gonjang ganjing di Negara Amarta.Dan Gatutkaca turun di bumi mampu mematahkan leher Naga Baginda yang dilambangkan sebagai Raja Dholim.. Dibumi inilah kisah Asmata Gatutkaca terjadi.mari ikuti penelusauran Tips Wisata Murah untuk ASmara Gatutkaca di Wisata Budaya berikut Go.. Go.. Go....!!!

KISAH ASMARA GATOTKACA
Gatotkaca yang sakti mandraguna yang terpilih menjadi pembela dewa-dewa di kahyangan itu diceritakan mempunyai tubuh setengah dewa,dan konon manusia sakti ini dibesarkan di api Candradimuka (semacam kawah gunung)dan dibekali puluh pusaka kahyangan yang melebur dalam tubuhnya.Diceritakan setelah beberapa saat digodok,Gatutkaca kemudian muncul dari kobaran api tersebut. Sesosok pemuda usia belasan tahun yang kemudian membantai , Raja raksasa "dholim" Pracona yang sempat memporak porandakan Negerinya ya bernama Negeri kahyangan, Dibalik kesaktian Manusia yang bisa terbang dari legenda jawa ini,,ternyata Gatotkaca juga menyimpan kisah asmara.Penelusuran kali ini kita fokuskan ke kisah asmara yang juga pernah dialami romeo yuliat.mari ikuti

Dalam sebuah perjalanan ia berjumpa Pergiwa, seorang putri gunung anak seorang pertapa. Hatinya berbunga. Belum lagi mengerti apa yang sesungguhnya sedang ia alami, kekecewaan menderanya dengan kejam saat tahu bahwa gadis itu telah dijodohkan dengan Lesmana anak Duryudana Raja Hastina. Pergiwa telah merampas hatinya dan ia tak tahu harus berbuat apa selain terbang setinggi mungkin, menukik ke bukit cadas dan menghantamkan tubuhnya di bebatuan."hehe gatotkaca stress rupanya" Disini beda dengan kasus asmara Hitler,dan Romeo, Gatotkaca diceritakan tidak mati.... .Bukan tubuhnya yang hancur melainkan batu-batu yang pecah dan longsor ke bawah, bergemuruh menggemparkan bumi. Anda terinspirasi dengan kisah legenda budaya dari jawa ini..hehe intermezooooo bos

UNTUK PETA POLITIK GATOTKACA YANG GANTENG INI, TRIBUNNEWS.COM memberi catatan tersendiri.baca catatan Tribun berikut
Bathara Guru beda pendapat dengan Dewa Narada terkait keinginan Gatutkaca menjadi raja para dewa di Kahyangan. Semula Bathara Guru sudah merestui keinginan Gatutkaca putra Werkudara itu tapi belakangan berubah pikiran setelah Dewa Srani anak Bethari Durga yang juga anak Bathara Guru datang ke Kahyangan dan menginginkan hal yang sama yaitu menjadi Raja di Kahyangan.

Jika ingin menjadi raja di Kahyangan maka Dewa Srani harus bisa membunuh Gatutkaca, demikian Bathara Guru memberi peluang kepada anaknya. Mendengar perintah itu, Dewa Narada menganggap Bathara Guru sebagai pimpinan para dewa tapi "mencla-mencle". Mengapa sudah merestui Gatutkaca menjadi Raja Para Dewa di Kahyangan tapi masih juga memberi kesempatan kepada Dewa Srani anaknya yang dinilai tak ada jasa kepada para Dewa.

Sedangkan Gatutkaca pernah ada jasa dengan mengalahkan Prabu Kalapracona dan Patih Skipu saat mengobrak-abrik Kahyangan, dimana para dewa kalah semua. Dan saat itu Gatutkaca dijanjikan sebagai Raja Para Dewa di Kahyangan setelah menundukkan dua raksasa. Janji itulah yang ditagih Gatutkaca setelah menjadi satria dewasa. Bathara Narada pun pergi meninggalkan kursinya karena menilai Bathara Guru tidak bijaksana.

Kondisi gonjang ganjing di Kahyangan oleh Ki Mantep juga diibaratkan seperti keadaan pemerintahan saat ini. Para pejabat di pusat termasuk para anggota DPR dan Menteri suka "ribut" sehingga rakyat kecil sering menjadi korban. Kalau di pusat ribut tentu rakyat yang kena imbasnya. Tapi jika pemerintah di pusat tenang dan kreatif memikirkan pembangunan maka wong cilik pun merasakan kesejahteraan.

Lagi lagi penonton bersorak merasa kritik sosialnya disampaikan oleh sang dalang Ki Mantep Soedharsono. Ribuan orang menikmati hiburan wayang kulit dengan dalang kondang Ki Mantep Soedharsono dari Solo, Sabtu (30/7) malam.

Mereka memadati halaman Bentara Budaya dan Kompas Gramedia di Palmerah sedari malam hingga dinihari sekitar pukul 03.00. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton sering muncul bila Ki Mantep menampilkan adegan perang cepat, memukau dan ditambah intrik elektrik.

Sajian wayang kulit dengan lakon "Gatutkaca Winisuda" seakan memberi hiburan kepada ribuan warga yang tidak hanya orang Jawa saja tetapi multi etnis. Sebagian menonton melalui layar kaca di halaman gedung Kompas dan ratusan orang lagi lesehan di depan panggung wayang di Bentara Budaya.

Ki Mantep yang pernah tampil di Bentara Budaya
Bahkan dalang yang sudah tergolong sepuh "tua" ini tampak masih kuat dan gesit memainkan wayang saat tampil dalam rangkaian Pameran Wayang bertajuk "Mengenal Wayang Mengenal Jati Diri Bangsa" 22-31 Juli 2010 di Bentara Budaya, Jakarta.

Ki Mantep pun kreatif dengan menampilkan "flashback" kilas balik terkait sejarah bayinya Gatutkaca yang dimasukkan ke Kawah Candradimuka hingga menjadi dewasa dalam waktu singkat dan sakti mandraguna.

Dalam tubuh Gatutkaca sudah terdapat berbagai senjata panah, keris, gada dan sebagainya karena saat berada di kawah tersebut, para dewa memasukkan berbagai pusaka andalannya. Begitu dewasa, Gatutkaca jika perang tidak butuh lagi senjata karena tangannya bisa berubah menjadi jenis senjata apa yang dimaunya.

Singkat cerita, di bumi Amarta telah datang raksasa bernama Naga Baginda yang mengobrak-abrik kerajaan para Pandawa tersebut. Naga Baginda berhasil mengalahkan semua lawannya dengan ilmu Gelap Sayuto. Tak terkecuali Hanoman, Setyaki, Werkudara, Permadi, Antareja, Antasena semua kalang kabut terlempar oleh ilmu Naga Baginda. Tetua punakawan, Ki Lurah Semar akhirnya menyuruh semua tokoh Pandhawa menyingkir dan menghentikan perlawanan karena akan sia-sia.

Gatutkaca yang juga terlempar oleh ilmu Gelap Sayuto milik Naga Baginda, akhirnya terdampar di pegunungan hingga terdiam berhari-hari setengah hidup mati. Dalam kondisi begitu, Dewa Narada turun ke bumi menghampiri Gatutkaca yang sakaratul maut. Kemudian Gatutkaca dibawa oleh Narada ke Kahyangan menghadap Bathara Guru pimpinan para dewa.

Dewa Narada memasrahkan jiwa raga Gatutkaca kepada Bathara Guru apakah akan dibunuh atau dihidupkan. Akhirnya Bathara Guru memberi kesembuhan kepada Gatutkaca yang kemudian ditanyai apa maksudnya sehingga ingin Merajai Para Dewa di Kahyangan. Gatutkaca menjawab dengan tulus, bahwa keinginan Merajai Para Dewa bukan karena rakus kekuasaan tetapi hanya ingin mengingatkan akan janji janji para Dewa.

Akhirnya Gatutkaca benar benar dilantik dan diganti pakaiannya menjadi Raja Para Dewa dan Bathara Guru serta para dewa lainnya menjadi anak buahnya. Inilah adegan klimaks "Gatutkaca Winisuda" sebagai judul dari wayang kulit oleh Ki Mantep Soedharsono semalam suntuk di Bentara Budaya.

Menjadi raja para dewa, Gatutkaca bergelar Raja Prabu Putra. Setelah sejenak merasakan duduk jadi raja para dewa, Gatutkaca menyerahkan kembali kekuasaan Kahyangan kepada Bathara Guru karena bukan itu tujuan utamanya. Gatutkaca sebagai ksatria akan kembali turun ke bumi menenangkan gonjang ganjing di Amarta. Setelah dipeluk haru oleh Bathara Guru, Gatutkaca turun ke bumi dan mengalahkan Naga Baginda dengan mematahkan lehernya.

Anehnya, Naga Baginda berubah menjadi ular yang tidak lain adalah Dewa Anta Boga yang disuruh oleh Sang Hyang Wenang untuk menguji ketabahan dan keluhuran budi Gatutkaca. Untuk menjadi pemimpin harus tahan mental, luhur budi dan sakti mandraguna. Dan hal itu telah dibuktikan oleh Gatutkaca sehingga berhasil menjadi Raja di Kahyangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar